Sou ne, Ohisashiburi!
Sejak kapan aku terakhir ngepost yaa?
Shieru: "umm, menurut journal saya, entri anda dibuat terakhir tanggal 20 Mei, Sachi-sama"
Sachi: "oh? benarkah? lama sekali ya..."
Shieru: "benar sekali, my lady"
Sachi: "adakah yang merindukan saya???? *dilempar ke sungai*"
Shieru: 'yare,yare" *membantu Sachi keluar"
Sekarang, aku akan menulis entry! YOSSSHHH! FIGHTOOO! *gaya yankumi*
Sebenarnya tidak ada yang benar2 update dari kehidupan ku yang bener-bener boring...
ahhh
paling tentang idola yang baru saya senangi akhir2 ini yaitu..
HIRO MIZUSHIMA-SAMA
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
RIHITO~SAMA!
ahhh! really love him!
he's cute!
Entah bagaimana, langsung saja jatuh cinta sama hiro-sama dalam Mei-Chan No Shitsuji
oh dear, he's soooo CHARMING!!!
*fainted*
Shieru: "Sachi-sama, anda terlalu berlebihan" *sweatdrops*
setelah itu, sayamenjadika hiro sama sebagai panutan, dan membeli drama2 yang dibintanginya, contoh: Kamen Rider Kabuto, Gokusen 2, Room Of King,
dasar Ikemen...
XD
JUN MATSUMOTO
~~~~~~~~~~~~~~~~
SHIN SAMA!!!
Aku jatuh cinta pada Jun-kun sejak menonton dia di Gokusen.. Aduh dia tuh TIPE TSUNDERE! Dibalik wajahny yang super cuek, pedes, jahil, tapi dia punya hati yang baik begitu pula dengan peranny di Hana Yori Dango >/////< style="font-weight: bold;">.yah langsung lah saya jatuh hati sama Jun
hahahah~ XD
X3
Bicara Soal liburan, liburanku kali ini penuh dvd..
oh dear..Aku ntn Toradora, Room Of king, Gokusen 1 & 2, Hana Yori Dango, kamen Rider Kabuto, HYDFINAL.,banyak juga kan?
dan masih banyak yang belum selesai..
hha~
Seriously, i love holiday!
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
sebenarnya aku masih sedih kalo harus pisah sama X-2..
oh dear...love that class..REALLY! T____T
Dunt wanna separated..
Aku pasti gak bakal lupain betapa fun ny bersama kalian, waktu Barbequan, Raja Bangau, Ribut bareng kalian, classmeeting bareng, outbond bareng...NEVER! T___T
aku cinta kelas itu...forever and ever..XDD
kelihatannya makin lama makin ngawur
udah dulu deh
Ja..Ne...
ANYA in WONDERLAND!!
ICON by ME
Fuhh~ Fanfic yang sudah lama q post di FFn akhirnya q post disini juga
walaupun fanfic BLACk part 2 belum ditulis 1 katapun..
tapi saya post yang 1 ini dulu
Enjoy GUYS..
FANFIC lama...
CREDITS ALL TO THE OWNER>.
Title: This is Another Story About You
Disclaimer: Code Geass Hangyaku No Lelouch R2, Sunrise
By: Sachi Lamperouge Phanthomhive aka C.C.
Spoiler Alert for Turn 25
--C.C. Vision--
“Tak pernah terpikirkan olehku, bahwa hari ini akan datang juga…”
Itu yang ada dibenakku semenjak Zero Requiem dimulai, rencana Lelouch dimulai, bila itu dimulai, artinya dunia sudah berada di dalam skenarionya. Aku tak peduli akan hal itu, tapi…mengapa dadaku ini terasa sakit sekali? Apakah karena aku lupa memesan pizza hari ini? Ini semua juga salah Lelouch, karena perintahnya, hari ini semua orang tidak bekerja demi memeriahkan pawainya..oh… tidak, lebih tepatnya…”Zero Requiem” nya. Oh tidak, lupakan saja. Sial.
Hari itu, aku bermalas-malasan didalam istana utama Holy Empire of Britannia, diruangan sebelah, ruangan putih besar yang megah dengan bendera Britannia terpampang disetiap sudut ruangan itu, Lelouch sang emperor dan Suzaku pengawalnya –Knight of Zero, tengah membicarakan tentang Zero Requiem, aku tak perlu lagi mendengar hal yang mereka bicarakan, karena aku tahu tujuan dan rencana Lelouch…. Maklumlh, aku kan C.C. yang maha tahu? Terdengar suara Suzaku—yang kedengarannya seperti tidak menyetujui rencana Lelouch. Ingin rasanya aku melihat Suzaku melempar kursi ke Lelouch…
“Berisik…” aku memeluk Cheese-kun lebih erat lagi, lebih dan lebih lagi. Seolah takut kehilangan seluruh asset berhargaku, pizza, cheese-kun, stampel kupon pizza, tempat tidur empuk, diperlakukan bak empress—sayangnya aku dianggap menjadi Empress Lelouch—apa lagi yang tidak membuatku senang tinggal disini? Lalu semuanya akan berakhir ketika Zero Requiem berhasil… Aku malas memikirkannya lagi. Terdengar suara pintu otomatis bergeser…
“Suzaku benar benar keras kepala” Lelouch masuk dengan langkah cepat dan menggerutu kesal. Pintu otomatis itu tertutup. Dan dia menghempaskan badannya ke sofa empuk disebelahku. Raut mukanya betul betul aneh. Aku menatapnya, tidak mengerti apa yang ada dibenaknya…Padahal biasanya C.C. tahu apapun, tapi kali ini (rekor pengetahuan segala apapunku terpatahkan?), aku tak menangkap apapun.
“Ada apa?” tanyaku dengan nada enggan.
“kau bertanya seolah-olah aku ini beban saja” Lelouch protes
“ya…ya, karena itulah aku C.C.” jawabku langsung, tak pernah kulihat Lelouch memprotes nada bicaraku.
“Suzaku…” Lelouch memulai.
Aku diam, tak mungkin aku menghancurkan suasana yang (mungkin) serius ini dengan guyonan, atau perlukah aku menggodanya? Hahaha, aku tertawa didalam hati.
“dia tidak menyetujui Zero Requiem, itu adalah rencanaku, dan harus dilaksanakan…meski…” tiba tiba ia berhenti.
“…tak perlu dilanjutkan” dengan spontan aku menolak. A…Ada apa padaku? Mengapa aku takut sekali mendengar akibat dan resiko dari Zero Requiem? Sekujur tubuhku bagai disiram air dingin, menggigil.
“C.C.?” Lelouch terlihat khawatir. Aku berdiri dan berjalan menuju pintu. Lelouch tiba tiba berdiri dan mengulurkan tangannya padaku.
“Ada…apa?” tanyanya.
Dadaku sakit lagi, sial, apa apaan ini. Aku berusaha memasang wajah yang cool seperti biasanya. Tak ingin terlihat bodoh! Melihat aku tak bereaksi, Lelouch mendekatkan wajahnya padaku.
“C.C.?” tanyanya lagi.
“Ah! Aku lupa, aku harus mencari…pizza!” tiba tiba aku mendapatkan ide untuk lari darinya—entah mengapa. Aku melepaskan—tepatnya melempar—cheese-kun. Cheese-kun terlempar ke sofa dibelakang Lelouch. Aku hanya bisa melihat Lelouch terdiam.
Ketika hampir menggapai scan pintu otomatis, pintu itu tiba tiba terbuka, dan muncullah Suzaku didepanku.
“C.C.! Lelouch…”
Melihat Lelouch ada didalam, ia menghentikan pertanyaannya. Kelihatannya aku dapat menebak pertanyaan itu. Mungkin Suzaku sudah berubah pikiran?
“Nikmati waktu kalian” Aku tersenyum, dan pergi dari ruangan itu. Mereka berdua berdebat, kelihatannya seru sekali…Aku penasaran jadi aku berdiri dibelakang pintu, mendengar percakapan mereka. Dan aku tahu bahwa….
“Zero Requiem, akan dilaksanakan, besok.”
Aku tercengang.
Hari itu telah tiba…
****
Itu adalah diriku yang waktu itu, aku menguatkan diriku. Aku yang lemah, rapuh dan tidak suka Lelouch pergi.
Aku berada di samping Lelouch, tak ingin—tepatnya tak bisa—jauh jauh darinya, dan aku punya peran tersendiri di Zero Requiem, lagipula ia sedang menjelaskan skenario tersebut pada Orenji, dan Suzaku.
“Sudah mengerti, Jeremiah?” Lelouch bertanya pada Orenji-kun setelah menjelaskan rencana “Zero requiem” panjang lebar.
“Yes Your Highness, sangat jelas” Jeremiah memberi hormat padanya. Suzaku tetap diam dalam sikap siaganya, diam seribu bahasa. Baiklah, dengan ini penjelasan dari Lelouch pun selesai, berarti aku boleh pergi, kan? Aku menggerakan kakiku tanpa suara.
“C.C.!” Lelouch memanggilku tiba tiba.
“Aku hanya ingin melihat keadaan, Lelouch” aku membalasnya. Memangnya dia berhak marah padaku? Begini-begini kan aku komando dan tangan kanannya?
“Kemari sebentar” kata Lelouch sembari berjalan menuju sebuah ruangan.
Apa lagi Lelouch? Strategi baru? Peran baru untukku? Aku menghela napas, dan detakan langkah hak tinggiku pun terdengar. Hanya tinggal Orenji dan Suzaku yang masih berdiri ditempatnya.
Dan segera, kami pun masuk keruangan itu. Begitu masuk, Lelouch langsung duduk di sofa panjang yang didepannya da papan catur lengkap dengan bidak-bidaknya, ruangan ini…harus kuakui sangat aneh. Ada banyak komputer-komputer besar untuk keperluan memantau, semuanya menyala, dan semuanya tengah menyiarkan situasi diluar, pawai Lelouch, persiapan hukuman mati para teroris dan memonitor Schneizel dan…Nunnally.
“Lelouch? Itu..!” aku terkejut melihat Nunnally dipenjara.
“Itu kan…Nunnally? Kenapa?”
Lelouch menggeleng,
“aku akan berubah menjadi sangat kejam, C.C., aku sudah bilang bahwa…sekarang ini semua untuk dunia, bukan Nunnally lagi.” Jawabnya dengan tegas.
Terpikir olehku untuk membuat leloucon disaat menegangkan ini.
“Itu baru namanya laki-laki” aku tersenyum.
Marianne dan Charles, anak laki lakimu sekarang sudah dewasa, aku terkikik dan Lelouch ikut tersenyum. Aku menghapus senyuman diwajahku. Ketika aku berbicara muncul embun embun putih seolah olah keluar dari mulutku, ruangan yang aneh, dingin sekali, pikirku.
Ada apa gerangan Lelouch membawaku kesini? Lelouch? Seolah-olah aku memanggilnya. Aku berharap dia menjawab, atau mungkin bersin? Lucu, kataku, aku tak pernah melihat Lelouch bersin-bersin. Sekarang mataku tertuju pada layar monitor besar, aku tak tahu berapa detil pikselnya, mungkin seukuran tubuhku.
Channel pertama, aku dapat melihat Schneizel dalam 4 sudut yang berbeda plus penjagaan ketat dari Empire Guardian. Geass memang hebat. Aku bangga akan hal itu. Walaupun begitu, Schneizel adalah pangeran ke 2, sedangkan Lelouch adalah pangeran ke 11. Lucunya, pangeran dipenjara di istananya sendiri? Geass sungguh hebat. Hanya Geass yang bisa melakukan ini, membuat hal yang mustahil dilakukan menjadi kenyataan…
Channel ke 2, adik kesayangan Lelouch, Nunnally Vi Britannia yang juga berada di penjara, kelihatannya Nunnally sedang menangis, mungkin dalam hatinya ia berteriak mengutuk Geass yang telah membuat kakaknya begini—tidak, mungkin aku, sang pemberi Geass… Lupakan saja, kataku dalam hati, Aku sudah terbiasa dikutuk-kutuk karena Geass, dan hal itu tak pernah membuatku mati , kemudian aku melirik Lelouch, yang sedang memain-mainkan bidak catur.
“Jadi sekarang raja yang maju kedepan?” aku menyinggung Zero Requiemnya.
“C.C…Aku..”
“Apa?” tanyaku langsung, malas bertele-tele.
Lelouch tak menjawab, kelihatnnya ia merasa bersalah sekali. Penyesalan apa lagi? Habis pikir, aku mendekat padanya, kuraih kepalanya dan kudekap kepalanya ke dadaku. Mungkin hanya itu yang bisa kulakukan sebagai C.C.
“C.C. …” ia melepas dekapanku. Mata ungunya bertemu dengan mata kuning cerahku.
“Kalo Zero Requiem berhasil…, maka permintaanmu..”
“tidak akan terkabul, kau gagal Lelouch” sambungku cepat. Suara Lelouch terdengar bergetar.
“maaf..C.C.” ujarnya terbata-bata.
Terlintas dalam pikiranku, Manusia itu berbeda dengan Majyo, ketika ajal akan menjemput, mereka akan meminta maaf…Majyo kan tidak? Seperti aku, aku adalah Majyo, sang Immortal Girl….Aku tak pernah punya penyesalan, setidaknya, karena (mungkin) waktuku masih panjang dan tak terbatas…
“sudahlah, tidak apa apa, lagi pula…”
“Apa permintaan mu?”
Belum selesai aku berbicara, Lelouch sudah menyelaku.
“Apa permintaanmu, C.C.?” ulangnya.
Aku terpana.
“Apa yang harus kulakukan?” desaknya.
Mungkin ini saatnya, saat untuk memberitahukan permintaanku, permintaan yang kuinginkan, sampai aku membuat kontrak Geass dengannya, kontrak yang mengikatku dengan Lelouch.
“aku malas menjawabnya”
Dan aku hanya bisa memelas, melihat tatapan matanya berubah menjadi tajam.
“Aku rasa itu bukan jawaban” Kali ini, suaranya dingin. Tangannya meraih bahuku.
“Aduh!” aku meringis, tangannya mencekram bahuku. Pikiranku melayang, sepertinya inilah saatnya untuk memberitahukannya permintaanku, di saat terakhir? Aku menelan ludahku, katakan, C.C.!
“lenyap, mati dari dunia ini..”
Akhirnya aku menjawab. Cengkraman tanganya di bahuku makin keras. Tatapan matanya kosong. Aku berusaha mengalihkan perhatianku, menoleh kearah lain, takut melihat matanya…
“TIDAK!” teriaknya.
Aku menoleh, Lelouch mengamuk?
“Tidak boleh! Kau tak boleh mati! C.C.!” raungnya.
“Le..Lelouch…tenanglah sedikit..” aku mencoba menenangkannya. Aku melihatnya, Geass dimata kirinya bereaksi. Kepalaku mulai menjelajahi pikirannya.
“A…Argh!!” ringisku. Kepalaku seperti ingin pecah. Sakit…Sakit…Sakit!!!
Pikiran Lelouch memasuki otakku. Aku melihatnya, kenangan tentang Euphie, Rolo, Shirley, ketika F.L.E.I.J.A ditembakkan dan dia mengira Nunnally meninggal. Hati Lelouch seperti teriris-iris. Shock, tidak percaya—Nunnally kan selalu selamat? Dia baik-baik saja, tak mungkin Nunnally mati, dia ada bersama Suzaku…Suzaku telah berjanji padaku.!— teriaknya dalam hati. Tak bisa bicara, pikirannya kosong, tak punya tujuan hidup lagi, rasanya ingin ikut mati bersama mereka…
“Aku tidak mau lagi…” Terdengar suara Lelouch.
“Kehilangan seseorang yang berharga bagiku…sudah cukup, sudah cukup dengan Euphie, Rolo, dan Shirley…Jangan kau juga..C.C.”
Aku tersadar, pikiranku tercampur-campur, ugh… ketika biarawati sialan itu menjebakku dan memberiku Geass yang terkutuk ini, perang yang terelakan…Senjata, pistol itu mengenai dahiku, dan aku masih hidup, hari-hari menjadi percobaan di laboratorium di Britannia, setelah diangkat menjadi partner Charles, V.V., dan Marianne, aku juga merasa tersiksa, musim panas di Jepang, saat itu Lelouch masih kecil, ia bermain dengan Suzaku, dan terjadilah penyerangan dari Britannia, awal dari Black Rebellion. Disaat aku mengenal Pizza, dan Cheese-kun. Pertemuan dengan Lelouch, Suzaku, Karen, Nunnally, dan semuanya. Semua ingatan itu berkumpul dan tercampur aduk, namun semuanya menggambarkan hubungan antara Geass, Aku dan Lelouch. Bagaikan suatu rantai yang tak bisa dilepaskan satu sama lain.
“Ugh!” aku ingin muntah rasanya…Aku mati lalu hidup lagi, mati lagi dan hidup lagi. Berapa banyak darah yang telah mengalir keluar dari tubuhku? Berapa banyak air mata yang sudah kuteteskan? Berapa banyak luka yang telah tergores di badanku? Bosan, aku bosan dengan kehidupan didunia ini. Aku lelah, aku sudah cukup hidup didunia ini. Aku ingin mati. Mati…Mati…Permintaaku dari dulu, permintaaan yang kuinginkan…
Kemudian, aku sadar bahwa Lelouch telah membaca masa laluku juga. Aku berbalik, melihatnya.
“Le…” aku memanggilnya, kelihatannya emosinya mulai stabil setelah melihat kenanganku yang pahit, karena itulah aku ingin mati. Alasan yang cukup bagus, bukan?
“Aku tetap tak mengijinkanmu.. C.C.!”
Aku diam.
“Lagipula, Zero Requiem akan berhasil….” katanya.
Lelouch berjalan, dan melepaskan cengkramannya, dan memegang mata kirinya.
“Tidakkah kau benci padaku, Lelouch?”
Dia berhenti.
“Mengapa?”
“Karena aku memberimu Geass yang melahirkan malapetaka ini semua” aku menatapnya lekat lekat. Ingin memastikan jawabannya.
Matanya berubah. Sepertinya aku bisa menebak jawabannya. Ketika mulutnya terbuka, aku dengan spontan menyetopnya.
“Aku tahu” kepalaku menunduk.
“Bodoh!”
Eh? Apa katanya? Berani mengejekku? Kepalaku terangkat. Aku terkejut, matanya berubah jadi lembut.
“Bodoh, aku malah beterima kasih, karena berkat Geass, aku bisa mengambil langkahku. Aku…Berterima kasih, C.C.” ujarnya malu mengatakan hal itu kepada Majyo yang sudah memperlakukannya sebagai pembantu penyedia suplai pizza, padahal dia seorang pangeran Britannia.
Otot-otot disekitar bibirku terangkat, aku tersenyum. Harus kuakui aku senang mendengar hal itu. Lelouch terdiam.
Suara sirene berbunyi tiba tiba memecah keheningan. Aku berbalik, Zero Requiem akan dilaksanakan…Lelouch segera berdiri. Siap melaksanakan eksekusi mati para anggota Kuro No Kishidan dan juga…dirinya?
“1 hal lagi, Lelouch…”
Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul dihadapanku.
“Kau tak membiarkan aku mati, tapi kau sendiri akan mati bukan?” Akhirnya aku mengatakan akibat yang akan terjadi padanya dari Zero Requiem itu.
Lelouch tak menjawab. Tik..Tik…tik…tik… Suara detakan detik mulai menghiasi keheningan. Aku menunggu jawaban darinya. Sudah tidak ada waktu lagi. Cepatlah, Lelouch…
Pintu terbuka, Suzaku memasuki ruangan, berlutut dihadapan Lelouch.
“Your Highness, Sudah waktunya” katanya dengan hormat.
“Pergilah dulu, Suzaku…” Lelouch memberikan perintah.
“….Ya…Your Highness” Suzaku dengan lambat menjawab.
Setelah Suzaku meninggalkan ruangan, Lelouch menyusulnya. Aku tetap berdiri ditempatku.
“Jalankan peranmu C.C….” perintahnya, namun aku mendengar nada yang tidak pas pada perintah itu, seperti ada…sambungannya. Lalu ia meninggalkan ruangan itu. Yah, karena aku C.C., aku harus melakukannya, karena tak ada lagi yang bisa melakukan peran itu, kecuali seorang gadis…C.C. Aku mengikutinya berjalan.
Di lorong yang sangat gelap itu, mulai terdengar suara para prajurit meneriakkan ALL HAIL LELOUCH dan lorong itu sebentar lagi akan terang benderang karena cahaya dari luar. Suzaku telah berada diluar rupanya, gumamku dalam hati, pantas berisik sekali. Tiba-tiba Lelouch berhenti. Beberapa langkah lagi ia akan keluar ke kerumunan orang-orang itu.
“Jawaban yang tadi…” katanya
Aku ikut berhenti.
“Karena…”
Karena? Aku mengulangi perkataannya dalam hati.
“Aku suka padamu …”
“eh..?” aku terkejut.
“karena itu…Jangan Mati…” lanjutnya.
Dia mengatakannya tanpa melihat kearahku. Punggungnya membelakangi tubuhku. Aku terkejut, terkejut…Jantungku berdetak keras. Untuk sepersekian detik otakku tak bekerja. Lelouch mulai berjalan, dan ia berbalik menghadapku.
“Selamat Tinggal” ujarnya
Dia tersenyum kecut, aku membatu, tidak tahu harus berkata apa. Lelouch mulai berjalan lagi, kali ini, dia tak berbalik lagi.
. Ia masuk ke cahaya itu. Dan aku…hanya bisa memandang punggungnya yang diterpa sinar. Aku masih dilorong gelap itu. Aku bergerak. Massa mulai meneriakan namanya.
Saatnya aku menjalankan peranku...
“Bodoh” aku berkata pelan.
“Kenapa..disaat akhir baru bicara begitu? Sungguh bodoh.” Tanpa disadari air mata membasahi pipiku. Sungguh…Bodoh sekali…dan air mataku terus berjatuhan…
“Apa ini?” aku masih ingin menyangkal air mataku…
Kenapa hanya aku? Kenapa aku sendirian lagi? Padahal…aku…aku… Aku sadar bahwa aku juga menyukai Lelouch
“ini yang namanya cinta yang sebenarnya?” aku berbisik.
Hangat, tidak seperti saat aku menggunakan Geass untuk membuat orang-orang suka padaku.
“Lelouch…Kau sungguh bodoh…”
***
Aku berlari…berlari cepat, sambil menyeka air mataku. Peranku..peranku…! Aku berteriak dalam hati. Bodoh! Kenapa masih sempat menangis? Aku memaki maki diriku yang bodoh. Aku gagal dengan peranku sebagai pendamping eksekusi, kalau-kalau ada hal yang tak diinginkan.
“Maaf ya, Lelouch”
“Maaf..”
Aku ingin menangis lagi.
Ketika aku sampai di kerumunan massa itu…Aku melihatnya, Zero Requiem… Tanganku bergerak, seolah-olah ingin menghentikan Suzaku—dalam kostum Zero yang akan menusuk Lelouch dalam skenario Zero Requiem. Ingin rasanya aku berteriak tidak boleh! Lelouch belum mengabulkan permintaaku…! Masih BELUM!! Aku belum mengatakan padanya bahwa aku tidak akan mati..!
TIDAK BOLEH!!!!!!!!!!!
Sudah lama aku mencarinya, masa sekarang aku haarus kehilangan lagi??! Aku ingin marah. MArah padanya karena menyuruhku hidup namun ia sendiri pergi…
Dan aku melihatnya, wajah Lelouch, wajah yang terlihat sudah puas. Wajahnya tersenyum. Apa ada orang yang tersenyum disaat-saat ajal menjemput? Aku berhenti. Suzaku telah menusuknya….dan, darah bercucuran dari tubuhnya ketika Suzaku mencabut pedangnya. Pikiranku kosong…kosong…Aku tak sempat melihat apa yang terjadi didepanku. Hanya suara raungan Nunnally dan setiap orang yang menyeru-nyerukan Zero yang bisa kudengar…
Zero..Zero..Zero…ya, Zero…
Mungkinkah pilihannya ini sudah tepat? Bahwa kematiannya adalah suatu hal yang terbaik?
Lelouch…
Aku pergi dari tempat itu—tempat dimana sejarah terbentuk, dimana Emperor Lelouch meninggal. Benarkah pilihannya untuk mati sebagai raja kejam? Orang-orang menyalahkannya, mengutuk dia sebagai Emperor kejam, orang-orang bersukaria atas kematiannya. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, tidak ingin mengingat itulagi. Aku punya tugas. Tugas terakhir,ya , aku punya tugas terakhir. Untuk Lelouch. Sebuah Gereja, disinilah aku akan menunaikan tugas terakhirku. Pelepasan Geass. Aku masuk kedalam gereja itu. Kaca-kaca mosaic yang antik menghiasi kedua sisi gereja. Gereja yang sepi, namun tata letaknya benar-benar mirip dimana aku menerima Geass. Gambar Malaikat dari Mosaik membelakangi sebuah altar. Aku berlutut. Mengapit kedua tanganku, dan jari-jariku saling bertaut, layaknya seperti orang berdoa. Aku menutup kelopak mataku. Sekelilingku bercahaya, pelepasan geass dimulai, aku akan mnghapus kontraku dengan Lelouch. Dia tak punya Geass lagi. Setidaknya…dia bisa tenang karena Geass—yang melahirkan seluruh dosa dan pembunuhan terlepas darinya. Iya kan?
***
***
--End of C.C. Vision--
“Sudah setahun semenjak kematian Lelouch, sang Emperor Kejam—begitulah orang orang mememanggilnya. Namanya populer, karena dia adalah pencipta Revolusi. Sekarang dunia sudah menjadi tentram dan damai. Tidak ada perang lagi, Jepang dan Britannia—seperti yang kita ketahui, berdamai. Tidakkah aneh bahwa dunia damai setelah Emperor itu meninggal? Nunnally menggantikan Lelouch menjadi Empress Britannia. Dengan ketegasan dan kelembutannya, Nunnally dapat memimpin Britannia dengan damai tanpa konflik. Ada banyak opini dari massa yang mengatakan bahwa Emperor itu mengorbankan dirinya untuk mendamaikan dunia dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai objek kebencian dan kejahatan. Semua itu masih samara-samar dan tidak jelas. Lalu bagaimana nasib orang-orang terdekat Lelouch—yang dikira menghilang?”
Kuro No Kishidan akhirnya mengakhiri pemberontakan, Zero, bersedia berdamai dengan Britannia. Karen bersekolah seperti biasa.
Jeremiah dan Anya—pasangan yang tak terduga—membuat perkebunan jeruk—orenji.
Dan seorang gadis, berambut hijau panjang, yang diketahui sebagai kekasih Zero, tukang paksa, Empress-nya Lelouch, maniak pizza dan lain-lainya, terakhir terlihat disebuah perkebunan dekat desa, sedang duduk disebuah kereta kuda yang dikendarai seorang laki-laki.
Sebuah lagu mengiringi kereta kuda itu berjalan—yang katanya dinyanyikan oleh C.C.—gadis itu.
“Rararararararararan
Itsuka mata aou
Rararararararararan
Ikiteru kagiri
Rararararararararan
Kaze ga hakobu mono
Rararararararararan
Asu o hiraku merodi”
Dan lagu itulah yang mengakhiri perjalanan Lelouch dan Cerita, Code Geass, Hangyaku No Lelouch. (Lelouch of The Rebellion).
“Tamat!” kataku mengakhiri cerita yang kuceritakan pada anak-anak disekolah. 2 anak diantara mereka sibuk memperdebatkan sesuatu.
“Ada apa? Setsuna? Ciel?” tanyaku, sebagai seorang pendamping di TK aku harus menjaga muridku agar tidak berkelahi.
“Sensei…! Dia bilang mau jadi seperti Raja Lelouch nanti besar!” kata Ciel
“Tidak boleh! Aku yang akan jadi seperti Lelouch ayng rela berkorban” sela Setsuna.
Aku hanya dapat mengangkat alisku
“Ternyata sudah dibalik sebutan Raja Kejam, Lelouch adalah orang yang baik” bisikku dalam hati.
“Cukup, Ciel dan Setsuna, kalian bisa menjadi orang seperti Lelouch bila mau berusaha dan punya hati yang teguh. Makanya, belajarlah dari sekarang.” Aku menasehati mereka.
“Iyaaa..sensei!” mereka berdua mengiyakan.
Lalu dengan semangat baru mereka meninggalkan ruang kelas sambil berlari karena itu adalah waktunya istirahat. Aku melihat mereka. Mungkinkah kelak, sosok Lelouch akan muncul pada diri kedua anak itu?
"Dunia akan terus bergulir" gumamku pelan, dan aku menyusul kedua anak itu dengan teman-temannya yang lain.
THE END~
YEAH! FINAL FANTASY X2 ALL THE WAY!
LENNE X YUNA
LACRIMOSA
kurayami no naka de mutsumi au
kanashimi wo abaku tsuki akari
tsumetaku terashiteta
kimi no kureta himitsu wo shirube ni
aoi yoru no shizukesa wo yuku
Lacrimosa
tooku kudakete kieta
mabushii sekai wo mou ichido aishitai
hitomi no naka ni yume wo kakushite
yogoreta kokoro ni
namida ga ochite kuru made
maboroshi no basha wa yami wo wake
hikari no aru hou he
yume to iu wana ga bokutachi wo
homura he izanau
sora no ue no mujihi na kamigami ni wa
donna sakebi mo todoki wa shinai
Lacrimosa......
bokura wa moesakaru takigi tonari
itsuka sono sora wo yaki tsuku sou
Lacrimosa
koko ni umarete ochita
chi nureta sekai wo osorezu ni aishitai
yurusareru yori yurushi shinjite
yogoreta chijou de
namida no hibi wo kazoete
Yang belum pernah nonton Kuroshitsuji pasti nggak tahu apa lirik ini. Ini lirik lagu Lacrimosa, ED ke 2 Kuroshitsuji yang cukup tragis dan mengerikan lagunya. Dimana scene Ciel dengan mawar-mawar putih pertama kali ada disini.. TT___TT..
Pasti tau dong ada angin apa aku majang lirik itu? LAGI KETAGGIHAN ITU LAGU!
Kereeeen banget! Gila, walaupun serem, vocalnya Kalafina sungguh2 ,membuat bulu kuduk saya berdiri..hahahahaahaha...
====================================================================
Hari ini dengan SPIRIT BARU saya menghadapi LIBURAN selama 11 hari yeah!
Liburan ini banyak list anime yang mau saya tonton...beberapa diantaranya:
1. Atobe's Gift (Yeyeyey! lagi di donlot)
2. Kuroshitsuji *melengkapi yang bolong2*
3. Katekyo Hitman Reborn *walau agak males krn anime ini GARING (???)*
3 anime ini bakal mengisi kekosongan liburan saya. tapi mungkin juga malah nambahin bosan, karena ada beberapa anime yang kurang disukai eps nya..
KALAU BEGINI!
JREEEENG! *bgm on*
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~Phantomhive Quest Lists~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
MISSION 1 : PRINCE OF TENNIS EVENT NOSTALGIC!
Rank : A+++ *kagak nyambung*
Overview: Menonton seluruh Eps TENIPURI 1-178 plus OVA di liburan ini. yeeey, Hisashi na tenipuri.. *cium kaset itu* LOL...XD
How To Accomplish : Menonton seluruh Eps TENIPURI 1-178 plus OVA di liburan ini tanpa melewati bagian2 yang bisa membuat saya tertawa terpingkal2, contoh: Penal Tea, Prince of Beach Volleyball *??*, Prince of Bowling dll...
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
ITULAh yang akan saya lakukan hari ini! Semoga gak ada halangan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~Phantomhive Quest Lists~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Mission 2 : GULLWINGS! FFX SPHERE HUNTER!
Rank : S+
Overview: Final Fantasy X adalah sphere*maksudnya CD dlm arti dunia ini bukan Spira* yang sangat penting dalam proses menamatkan Final Fantasy X-2 dimana ending Tidus X Yuna bereuni setelah Tidus menghilang di FFX..
How To Accomplish: Gullwings kan grup Sphere Hunters di FFX2? dengan anfggota YUNA, RIKKU, PAINE. dan saya ikut *ditimpuk sepatu*
pokoknya misi kali ini mencari FFX NO MATTER WHAT! Kemari baru aja mau beli sudah habis! SHITTTT!!!!
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ini adalah cerpen yang dibuat untuk tugas B.Ind
Saya mencomot chara dari Kuroshitsuji
cerpen kah ini? Atau Fanfic?
hahahaha
TITLE : RED / MERAH
Disclaimer : Kuroshitsuji bukan punya saya. Kalau sebasxx punya saya, pasti saya suruh bersihkan kamarku tiap hari, nganter saya ke les, buatin kue pai sama earl grey. untung Ciel bukan punya saya, kalo punya saya, nanti jadi bantal peluk. WAKKAKAKAKAAK
Keluarga Phantomhive adalah keluarga yang aneh, misterius dan tertutup. Begitulah kata orang-orang. Keluarga ini adalah keluarga keturunan bangsawan yang merupakan kepercayaan Raja dan Ratu Inggris selama beberapa generasi. Saat ini, kepala keluarga tersebut adalah seorang bocah berumur 12 tahun Ciel Phantomhive. Orang-orang pasti bertanya, mengapa anak laki-laki berumur sekecil itu dapat memimpin keluarga bangsawan yang dipuja-puja dan agung seperti itu? Tapi jangan meremehkan kemampuannya dalam memimpin keluarga ini. Walaupun kecil, dia sudah bertindak seperti orang dewasa.
Ceritanya panjang, konon, keluarga Phantomhive adalah keluarga yang baik, terbuka dan selalu membantu orang miskin, kepala keluarga saat itu adalah ayah dari Ciel, Earl Phantomhive. Sebuah bencana menimpa keluarga Phantomhive tersebut, kebakaran melalap habis mansion keluarga itu, dan anehnya yang selamat hanya Ciel dan kakak perempuannya yang bernama Cielle, dan dua pelayan keluarga itu.
***
“Ciel?” aku berada di lorong tempat menuju ruang kerja Ciel di mansion besar milik keluarga Phantomhive, karpet merah menghiasi jalan di sepanjang jalan lorong. Pigura-pigura besar dan lukisan-lukisan antik terpampang disepanjang dinding itu.
“Ciel” panggilku sekali lagi. Tak ada jawaban.
Kriettt…
Pintu paling ujung lorong tempatku berjalan perlahan-lahan terbuka, dari dalamnya keluarlah kepala pelayan keluarga ini, Aschalia Michaelis.
Ada lima pelayan yang bekerja di mansion ini, kepala pelayan, Aschalia, dan kakaknya Sebastian Michaelis—yang merupakan juru masak disini. Tiga pelayan selanjutnya, bisa dibilang hampir tidak bekerja, Ciel yang membawa mereka kesini, karena mereka yatim piatu, yaitu Mayleen, Bard, dan Finny. Tamu-tamu yang datang pasti merasa aneh karena mereka tidak bisa bekerja, tapi mereka menjadi pelayan di mansion Phantomhive ini. Sebenarnya, aku tahu Ciel punya tujuan sendiri mempekerjakan mereka, yaitu, kekuatan misterius ketiga pelayan ini, untuk menjaga mansion ini. Sehingga mansion ini tak perlu mengulangi kepahitan seperti ayah kami dulu. Pikiranku mulai terbayang kesana, dimana kedua orang tua kami meninggal…Aura kelam mulai menghiasi hatiku bila memikirkannya lagi.
“Nona, Tuan muda Ciel sekarang sedang sibuk mengurus dokumen kerajaan, dan Tuan muda Ciel berpesan agar nona dapat menemuinya jam 4 sore nanti” kata Aschalia yang saat itu mengenakan pakaian pelayan eropa yang elegan.
“Oh..” gumamku, mataku terarah kearah jam antik yang berada di dinding. Jam 1.30 siang.
“Adakah yang perlu disampaikan kepada Tuan muda, nona Cielle?” tanyanya lagi dengan sopan.
“Ah! Tidak, tidak ada. Terima kasih Aschalia”
“Kalau begitu, saya permisi dulu” Aschalia membungkuk, lalu mendorong kereta dorongnya yang masih penuh berisi makanan melewatiku. Aku berpikir, Ciel tidak makan lagi hari ini? Sesibuk itukah Ciel? Makanan buatan Sebastian kan enak?
Aku berjalan mendekat ke pintu dimana Ciel sedang bekerja. Kurasa tugas kerajaan itu terlalu berat untuk anak berumur 12 tahun sepertinya. Aku membuka pintu itu perlahan.
“Aschalia? Bisakah kau memindah dokumen…”
Perkataan Ciel terhenti, melihat bahwa yang berdiri diambang pintu bukanlah Aschalia, tapi aku, kakaknya.
“Kakak? Bukankah aku memintamu untuk tidak menemuiku sampai jam 4?” Ciel melanjutkan perkataannya, tangannya sibuk memilah-milah kertas.
“Ciel, Kenapa kau tidak memakan makan siangmu lagi?” tanyaku.
“Aku sibuk, kak. Elizabeth juga akan berkunjung dengan Madam Red nanti malam. Aku tak yakin dokumen akan selesai” jawabnya.
Elizabeth adalah tunangan Ciel, dia juga keturunan bangsawan dan mempunyai darah keluarga kerajaan, sedangkan Madam Red, menurutku, dia adalah orang eksentrik yang sangat menyukai warna merah. Madam Red adalah bibi kami. Tepatnya Madam Red adalah adik dari ibu kami. Nam aslinya adalah Aunt Angelina, aku memanggilnya begiru.
“Makanlah sedikit Ciel, aku akan meminta Sebastian membuat kue pai kesukaanmu. Mau ya?” pintaku. Ciel adalah adik laki-lakiku satu-satunya. Kalau ia jatuh sakit, aku akan sangat panik.
“….baiklah” Akhirnya adikku itu mengiyakan, walaupun aku mendengar ada sedikit nada ogah dalamnya, tapi aku senang karena Ciel adalah tipe orang yang dingin namun sebenarnya baik.
“Kalau begitu, aku akan membawanya padamu segera” kataku ceria, sambil berlari-lari kecil menuju pintu.
“Hei…Hati-hati” katanya sambil mendesah.
“Iya, Ciel…” jawabku cepat.
Aku menyengir, aku sangat suka sifat Ciel itu. Adikku satu-satunya. Oh ya, aku belum menceritakan bahwa ada rahasia lain di keluarga Phantomhive ini bukan? Sebenarnya, kami adalah tangan kanan Ratu Inggris yang bertugas menghapus seluruh bukti salah yang memojokkan Ratu dan kerajaannya. Ini adalah tugas sebagai keluarga Phantomhive. Tugas ini cukup berat karena, ada saja oknum-oknum yang tak menyukai keluarga kerajaan, dan Phantomhive jadi korbannya karena selalu menyembunyikan kesalahan keluarga kerajaan, aku sempat berpikir karena hal inilah, Ayah, Ibu dan seluruh pelayan dibakar oleh mereka yang tak bertanggung jawab.
Kakiku dengan cepat menuruni anak tangga, aku tidak mau memikirkan tentang itu lagi. Ketika aku sampai ke ruangan dansa, aku secara kebetulan bertemu dengan Sebastian dan Aschalia yang tengah membicarakan sesuatu dibawah tangga.
“As..”
“Bagaimana ini Sebastian? Tuan muda Ciel tidak mau memakan makan siangnya sedikit pun, bagaimana kalau Tuan muda sakit…” Aschalia terlihat bingung sekali. Aku terdiam. Sebastian yang melihatku berada diatas tangga menuju mereka,langsung mengisyaratkan diam pada Aschalia dan membungkuk memberi salam hormat.
“Selamat Siang, Nona Cielle” katanya sopan.
“Selamat Siang, Nona Cielle” Aschalia mengikutinya.
Dahiku sedikit mengerut.
“Ehm, Sebastian, bisakah kau membuatkan kue pai kesukaan Ciel?”
“Tentu saja dengan segera, My lady, ada yang lain?” tanyanya.
“Tidak” kataku sambil mengeleng-gelengkan kepala.
“Baiklah kalau begitu” Sebastian dengan cepat berjalan menuju dapur. Sampai punggungnya tidak terlihat lagi, aku melanjutkan menuruni tangga.
“Nona, saya khawatir sekali terhadap kesehatan tuan muda…” Aschalia tiba-tiba berbicara.
Kali ini dahiku mengerut hampir seluruhnya
“Aku tahu, tugas kerajaan berat, dia tidak mau makan meski aku membujuknya. Aku harap Madam Red dan Elizabeth bisa membujuknya” jawabku.
Aschalia masih terlihat bingung.
“Tenanglah Aschalia, kau tahukan siapa yang akan sangat panik bila Ciel sakit?” ujarku tersenyum, berusaha menenangkan diri.
“Ya, Nona” Aschalia mengiyakan.
Sebelumnya sudah ada kejadian begini, begitu Ciel sakit aku langsung pusing tujuh keliling dan hampir pingsan karena aku sangat menjaga adikku satu itu. Aschalia sepertinya tak ingin kejadian itu terjadi, begitu pula aku. Karena Ciel sakit, aku terpaksa menggantikannya menjadi mata-mata keluarga kerajaan, dan seperti yang kalian ketahui, aku yang ceroboh ini tak mungkin mengerjakan dengan lancar, sampai-sampai Ciel—yang dibantu Sebastian, menyusulku.
Aku menghela napas. Sepertinya aku hanya jadi beban saja.
Ding…Dong…
Jam raksasa di aula tengah berbunyi, dan menghiasi keheningan yang ada di mansion ini. Maklumlah, mansion ini sepi, hanya Ciel, Aku, Aschalia, Sebastian dan tiga pelayan lain yang kerjanya main-main seperti yang sudah kujelaskan, yaitu Mayleen, Bard dan Finny yang ada. Mansion ini selalu sepi dan sunyi—kecuali Elizabeth dan Madam Red datang dan membuat mansion ini berantakan—orang-orang pun takut memasuki mansion ini. Jam raksasa itu akan berbunyi setiap 1 jam, huh, sudah jam 2 ya? pikirku.
“Nona, saya permisi dulu, saya akan mempersiapkan hidangan makan malam untuk Elizabeth dan Madam Red yang akan berkunjung malam ini” Aschalia membungkuk, lalu pergi, hanya detakan sepatu pelayannya yang terdengar menggema di ruangan dansa ini.
“Kurasa Sebastian akan mengantar kue pai itu” aku berbicara sendiri dan berjalan menuju kamarku.
Sesampainya di kamarku, aku menghempaskan badanku ke ranjangku yang empuk dan bercorak mahkota dengan sulaman emas disetiap pinggirnya. Aku jarang pergi keluar jadi aku selalu duduk termenung di ranjangku atau berlatih dansa dengan Mayleen di ruangan dansa. Aku mengadahkan kepalaku ke atas, langit-langit kamarku juga terlihat mewah, lampu gaya eropa kuno yang menggantung ditengah-tengahnya, kristal-kristal dari lampu itu mengantung membentuk lingkaran dengan kristal yang paling besar ditengahnya.
Tok, tok tok.
Ketukan di pintuku membuyarkan lamunanku. Sebastian masuk membawa dua kereta makan yang diatasnya ada kue pai yang masih panas, yang kelihatan baru saja keluar dari oven, wanginya menghampiri hidungku. Hmm, ini pasti kue pai rasa raspberry, saraf-saraf hidungku memberitahuku.
“Ini nona, saya bawakan kue pai raspberry dan teh Earl Grey kesukaan Anda dan Tuan muda Ciel” katanya sambil mendorong satu kereta dorong yang berisi kue-kue kecil untuk jamuan Afternoon Tea dan kue pai.
“Tolong kau antarkan untuk Ciel” perintahku sambil duduk di tepi ranjang.
“Sesuai kehendak Anda” jawabnya cepat.
“Terima Kasih, Sebastian” kataku.
“Kalau begitu, permisi” katanya sambil mendorong kereta satunya lagi.
Pintu kamarku tertutup pelan.
Sebenarnya aku malas memakan kue pai dan kue-kue jamuan sore itu. Tapi karena Sebastian sudah membuatnya, aku harus memakannya. Aku mengambil sepotong kue pai itu, dan memakannya. Rasa yang khas di setiap kue pai buatan Sebastian meleleh dimulutku. Rasa raspberry dan madu membuat lidahku manis, namun tidak merasa mual. Tiba-tiba aku merasa sangat mengantuk. Lalu, dengan sukses, aku tertidur…
***
Tepat pukul 3.40 sore, sebuah kejadian membangunkanku. Waktu berjalan begitu cepat. Mayleen, Bard dan Finny berteriak-teriak histeris. Aschalia sibuk memarahi mereka sambil berkata agar diam supaya aku tidak bangun.
“Ada apa?” bisikku ketika mendapti mereka berkerumun di depan ruang kerja Ciel.
Mereka seakan-akan melihat hantu ketika melihatku. Sebastian berada di dalam ruangan kerja Ciel. Aku melihatnya. Ciel tergeletak di lantai. Sebastian tengah menunduk untuk menggendongnya.
Deg! Jantungku berdetak keras.
“CIEL!” teriakku.
“Nona!” Aschalia memanggilku.
“Nona Cielle, tenanglah” Sebastian berusaha menenangkanku.
“Nona Cielle, Tuan Muda hanya kelelahan. Sebastian sudah membuatnya tidur agar tidak bekerja lagi” Aschalia berusaha menjelaskan dengan cepat sebelum aku berteriak lagi.
“Apa? Benarkah?” tanyaku.
“Iya, nona.” Aschalia menjawab.
“Ini semua harusnya berjalan lancar kalau ketiga pelayan yang dibawa Tuan Muda Ciel ini tidak histeris” katanya lagi sambil menatap tajam ketiga pelayan yang ia maksud. Mayleen, Finny dan Bard.
“Hiiiii” Finny merasakan aura yang tidak mengenakan ketika Aschalia melototinya.
Ketiga pelayan itu pun kabur.
“Ada ada saja” keluhku.
Aku berbalik melihat ruang kerja Ciel, ada banyak dokumen yang bertumpuk di mejanya.
“itu..” tanganku menunjuk kearah meja kerja Ciel.
“Itu dokumen-sokumen yang belum selesai dicek tuan muda, Nona.” Sebastian menjawab langsung, seakan-akan dapat mambaca pikiranku.
“Oh..”
Aku langsung berpikir, betapa beratnya pekerjaan yang dilakukan Ciel, wajar kalau dia sampai kelelahan.
“Dasar, para orang-orang tua di kerajaan itu tidak bisa mengurus sendiri apa?” aku mengeluh, untuk pertama kalinya aku mengejek keluarga kerajaan.
“Hmph” Sebastian dan Aschalia secara serentak tertawa.
“Iya, ya” kata Aschalia.
“Tapi sebelum itu…” lanjutnya.
“Bisakah kau membawa tuan muda Ciel keruanganya sebelum ia bangun, Sebastian? Berapa lama lagi kau akan mengendongnya seperti Romeo dan Juliet?” Aschalia tersenyum seperti setan.
Aku yakin bulu kuduk Sebastian pasti berdiri.
“Hahahahaha” aku tertawa. Kedua pelayan itu tersenyum melihatku kembali ceria.
“Baik, Nyonya Aschalia” Sebastian membalasnya.
Aku berjalan cepat kearah Sebastian sebelum ia bergerak. Aku mengelus-elus pipi Ciel.
“Kau butuh istirahat Ciel, adikku sayang.” kataku.
“Oh iya” Sebastian tiba-tiba teringat sesuatu.
“Bukankah sama saja kalau hari ini Tuan muda istirahat tapi malam nanti tuan muda harus meladeni Madam Red dan Elizabeth?” guraunya.
Tawa kami pun meledak lagi.
“Sudah, sudah, bawalah Tuan muda Ciel” Aschelia memerintahnya lagi.
Sebastian pun meninggalkan ruangan kerja Ciel.
“Nah.” Aschalia menyambung perkataanya.
“Ada yang harus kita lakukan” katanya sambil mengedip mata padaku.
“Hah? Aschalia?” Aku terkejut dengan perubahan sikapnya secara tiba-tiba.
Matanya mengarah ke tumpukan kertas-kertas kerja yang menumpuk di atas meja kerja Ciel. Aku mengikuti pandangannya.
“Betul.” kataku tersenyum.
Dan kami pun meraih kertas-kertas itu.
***
Ciel terbangun sekitar pukul 7.30 malam, begitu yang kudengar dari Sebastian. Aku dan Aschalia sibuk membereskan pekerjaan Ciel. Begitu banyak menara buku-buku tebal dan kertas-kertas bertumpuk. Akhirnya selsai juga.
Pukul 7.50 malam, Ciel datang keruang kerjanya, begitu melihatku dan Aschalia sudah menyelesaikan pekerjaannya.
“Ya Ampun” katanya, begitu menemukan kami sudah membereskan seluruh pekerjaannya.
“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya dingin.
Oh Tuhan, Ciel marah? Kataku dalam hati.
“Aschalia…” panggilnya.
“Ya, Tuan muda?” jawab Aschalia dengan tenang.
“Elizabeth dan Madam Red tengah berada diperjalanan menuju kesini. Kau belum menyiapkan apa-apa?” tanyanya cepat.
“Oh, maaf Tuan muda, Sebastian seharusnya sudah menyiapkannya,…”
“Pergilah...”
“Baik, tuan muda”
Setelah deiperintah, Aschalia langsung meninggalkan ruangan.
***
Madam Red dan Lizzy—nama panggilan Elizabeth tiba tepat waktu setelah aku mengganti pakaian dan membersihkan diri. Lizzy sangat menyukai seluruh benda yang imut dan dia sangat menyukai Ciel—yang katanya paling imut diseluruh dunia, aku hanya tertawa mendengarnya. Begitu sampai, Lizzy langsung melompat dan masuk ke mansion. Madam Red mengikuti dari belakang.
“Selamat datang di Mansion kami, Lady Esel Cordelia Elizabeth Midford” sambut Sebastian begitu Elizabeth masuk.
“Hai Lizzy” sapaku sembari menuruni anak tangga.
“Lady Cielle!” Lizzy langsung menghampiriku dan memelukku di tangga.
Elizabeh juga sangat suka padaku dan menganggapnya sebagai kakaknya, aku juga sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri.
Detakan hak tinggi Madam Red mulai menggema, ketika ia memasuki ruangan. Sebastian dan Aschalia langsung menyambutnya.
“Selamat datang Madam Red” Aschalia dan Sebastian menyapanya secara bersamaan.
“Aunt Angelina” kataku menghormatinya sambil membungkuk mengangkat gaunku.
“Cielle…Sudah kubilang panggil aku Madam Red saja..”
Belum sempat aku menjawab, Elizabeth sudah berteriak lagi
“Ciel!!!” teriaknya sambil menghampiri Ciel
Kadang-kadang aku kasihan melihat Ciel. Elizabeth langsung memeluknya dan memutar-mutasnya seperti boneka.
“Elizabeth!” Ciel protes. Namun Elizabeth tidak akan berhenti sebelum ia puas.
“Aduh” Madam Red memegang kepalanya, pusing dengan kelakuan Elizabeth.
“Madam Red, tuan muda Ciel, nona Cielle dan nona Elizabeth, silahkan” Aschalia mempersilahkan kami untuk menuju ruang makan.
“Ayo Ciel!” Elizabeth menarik tangannya. Ciel hanya bisa pasrah.
Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Madam Red. Aku menatapnya. Tatapan Madam Red seperti marah akan suatu hal.
***
Hidangan malam ini ala Jepang. Sebastian memang hebat dan aku mengakuinya. Dia hampir bisa membuat seluruh masakan dunia. Pilaf udang ala Jepang merupakan menu utama hari ini. Tidak ada wine yang disajikan, karena kami masih kecil—kecuali Madam Red.
“Hohohohoho, aku puas sekali hari ini” Madam Red memulai pembicaraan.
“Pilaf udang ini betul-betul enak, Sebastian, kau hebat..Kenapa tidak bekerja padaku saja?” godanya sambil mengedipkan mata.
“Maaf, Madam Red, saya adalah pelayan keluarga Phantomhive, sampai akhir pun saya tetap pelayan disini.” Sebastian menjawabnya dengan sopan sambil tersenyum.
Madam Red terdiam sejenak
Jamuan makan malam sudah selesai. Mayleen dan Finny bergegas mengangkat piring-piring kotor, seperti yang kalian ketahui, mereka sangat kikuk. Hampir saja piring-piring itu jatuh kalau tidak ada Sebastian yang dengan piawai menangkapnya.
“Mari, saya antar ke kamar kalian, Madam Red dan Nona Elizabeth” Aschalia membungkuk.
“Kalau begitu...” Madam Red berdiri.
Aku tetap merasakan ada hal yang aneh. Madam Red beranjak pergi, Elizabteh memeluk Ciel dan aku sekali lagi sebelum mengikuti Madam Red.
“Selamat malam Lizzy” kataku
“Untukmu juga, Lady Cielle” balasnya ceria.
“Daaah Ciel!” sambungnya dan meninggalkan ruang makan.
***
Ampun! Aku tidak bisa tidur! teriakku dalam hati. Kali ini aku benar-benar tidak mengantuk. Dunia sudah terbalik kali ya, ujarku. Siang bolong aku mengantuk, giliran malam aku malahan tidak bisa tidur.
“Haaah” aku menghela napas.
Aku bangun dari ranjang. Menggeser selimutku ke samping, dan memakai selop disamping ranjangku.
“Kelihatannya aku butuh refreshing malam” tebakku asal.
“Jalan-jalan mungkin bagus”
Aku keluar dari kamarku. Lorong yang menuju kamarku agak terang karena cahaya bulan menembus jendela. Mayleen pasti lupa memasang jendela dengan korden pikirku. Tiba tiba terdengar bunyi detakan sepatu.
Madam..Red? Aku langsung mengenalinya karena bunyi detakan sepatu hak—hanya dia yang memakai sepatu hak tinggi.
“Aah…Cielle? Kenapa masih belum tidur?” tanyanya ketika melihatku.
Aku merasa sedikit takut. Bola mataku membesar dan perasaan tidak enakku langsung bertambah ketika melihat pisau yang berada ditangan Madam Red.
“Madam…Red? Untuk apa pisau itu?” tanyaku penasaran.
“Ah? Ini? Untuk…” tiba-tiba ia berhenti
“Untuk menmbuatmu merah sepertiku” katanya sambil tersenyum.
Apa? Dia gila?
“Kau bercanda Madam?” aku mundur selangkah, hampir saja aku menyenggol guci antik pemberian Ratu.
Senyumnya mengembang
“Tidak, aku…” tangannya mengangkat pisau itu.
Dia serius! Aku langsung lari dari hadapannya.
“Cielle?” panggilnya.
Aku ketakutan, kakiku tak bisa berlari seperti biasanya. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Aneh. Madam Red sangat aneh, aku sudah merasakannya sewaktu ia datang.
“Kau tahu?” lanjutnya setelah memanggilku.
“Aku sangat membencimu”
Aku terdiam, berbalik menhadap Madam Red yang sedang berjalan kearahku. Aku seperti disihir, tidsak bisa bergerak.
Ada apa? Bergeraklah! Jeritku dalam hati, kenapa ini?
Madam Red sudah mencapaiku sebelum aku mengangkat kepala. Wajah Madam Red tak terlihat jelas karena cahaya bulan membuatnya terlihat seperti siluet.
“Aku benci sekali padamu, Cielle, karena itu..Mati saja kau!!!” Madam Red mengayunkan pisau itu kearahku.
Argh! Aku menutup mata, bersiap akan sakit yang akan kurasakan.
“AAARGH!”
Suara Ciel? Aku membuka mata, mendapati tangan Ciel penuh dengan darah.
“Ciel!” aku langsung memegang tangannya.
“Hahahaha!” Madam Red tertawa.
“Itu dia! Warna merah yang sangat kusukai!” Ia mengambil ancang untuk menusuk Ciel.
“Hentikaaan!” aku menghalanginya namun Madam Red menendangku.
“Ugh…” aku membentur dinding. Lukisan disampingku langsung jatuh, dan kacanya pecah.
“Ci…”
“Masih mengkhawatirkan kakakmu, Ciel?” Madam Red masih sempat menanyakan pertanyaan pada Ciel.
“Aku sangat membencimu. Tiap kali… KUHARAP KALIAN TAK PERNAH LAHIR!” teriaknya dengan keras.
Jantungku berdegup kencang. Madam…Red..? Kulihat Ciel juga sangat shok mendengar hal itu. Bola matanya membesar. Madam Red langung memanfaatkan kesempatan ini untuk menusuk Ciel. Ciel masih terdiam.
Tidak!
“Ti…” Tidak..aku berusaha bangun.
“Tidak akan kubiarkan!” teriakku. Aku langsung mendorong Ciel mundur dan memasand badanku sebagai tamengnya. Ciel terkejut.
“Hentikan! Aunt Angelina!” teriak Ciel.
Deg!
Melihatku, Madam Red langsung mundur. Mulutnya menganga.
“Ka..kak…”
Ibu?
Madam Red terlihat sangat terkejut. Tangannya gemetaran.
Klontang! Pisau itu jatuh dari genggamannya.
“Tidak…” Matanya seperti orang kesurupan. Aku dan Ciel melihatnya bertingkah aneh.
“Aunt Angelina!!” teriakku.
***
Hujan deras sekali hari ini. Elizabeth dan Aku berada dalam sebuah gereja. Menghadiri upacara pemakaman. Upacara pemakaman Madam Red. Lilin-lilin berjajar di atas altar persembahan. Kaca-kaca mosaik menghiasi kedua sisi gereja antik itu. Ciel masih belum datang, mungkin ia terlambat. Kami semua sedang menunggunya.
“Madam Red…” suaraku bergetar. Disampingku, Elizabeth sedang menangis, air matanya terus mengalir, dibelakang kami ada Sebastian, Aschalia, Mayleen, Finny dan Bard. Aku ingin menangis. Air mata sudah berkumpul dipelupuk mataku. Ini kedua kalinya kami kehilangan orang yang berharga. Air mataku akhirnya jatuh.
Malam itu, ketika Madam Red akan membunuh kami, tiba-tiba ia melihat bayangan ibu dalam diriku—katanya aku mirip sekali dengan ibu. Setelah mengatakan hal itu, Madam Red mengambil pisaunya dan menggorok lehernya sendiri. Aku dan Ciel terkejut. Ciel langsung menghampiri Madam Red.
Madam Red menangis. Mulutnya penuh darah. Dan ia menceritakannya, hal yang membuatnya ingin membunuh kami.
“Ciel...Cielle...Maafkan aku…”
“Panggil Sebastian!” Ciel memerintahkanku. Aku langsung berdiri meskipun peruku sakit karena ditendang.
“Tidak, kumohon, aku …”
Aku langsung terdiam. Kurasa aku tak punya pilihan lain. Tapi..tapi Madam Red sekarat!
“Pertama kali aku bertemu dengan Earl, ayahmu…Aku…langsung menyukainya…Ia sangat baik”
Kami berdua terdiam mendengarkannya.
“Earl..memujiku snagat cocok dengan warna merah…karena itu..aku selau memakai warna merah…tapi…”
“hanya aku sendiri yang memendam perasaan ini..kalian tahu? Betapa sakit hatiku ketika mendengar Earl akan menikahi kakakku…” lanjutnya.
Aku langsung merasa bersalah. Rasa bersalah ini langsung mengerogoti hatiku. Tidak enak rasanya. Sakit.
“a..ku…akhirnya…menyerah dan menikahi pria lain..namun…aku masih menyukainya…Ciel..Cielle…ugh...”
“Bertahanlah!” Ciel berteriak.
“Sebas..!”
Begitu aku ingin berdiri, tangan Ciel langsung menyuruhku duduk lagi.
“seharusnya…aku bahagia dengan suamiku, tapi…lagi..lagi…mereka berdua meninggal dalam kecelakaan kereta…”
“Mereka..berdua?” tanyaku
“Bayiku…Sekarang tinggalah aku sebatang kara…tapi kakak selalu menyemangatiku…ketika aku melihatnya bahagia bersama kalian…aku merasa sangat bersalah karena menyukai Earl.., lalu…kebakaran itu merenggut mereka lagi dariku..”
Madam Red mulai kehilangan kesadaran…Tidak seperti cahaya bulan yang selalu bersinar terang. Matanya mulai sedikit menutup. Aku tahu pandangannya sudah mulai pudar. Darahnya mengalir…
“Ketika aku mengetahui kalian selamat, aku sangat senang…sekaligus benci karena kalian anak Earl…ternyata…rasa sayangku pada kalian mengalahkan rasa benciku…” katanya terbata-bata
“Ma…Madam…” aku mulai menangis. Ciel dan aku mengenggam tangannya yang penuh darah. Kami tak peduli noda darah itu akan mengotori kami. Tapi…tapi..
“Kami…juga sangat menyayangi Madam Red..”
Senyumnya sedikit mengembang
“Jagalah…Eli..za…”
Matanya pun tertutup, sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Hatiku sakit. Sakit sekali. Untuk kedua kalinya, kami melihat orang yang berharga bagi kami meninggal didepan kami, sama seperti Ayah dan Ibu.
***
Ternyata Aunt Angelina menyukai Ayah…
Krieeeeet
Bunyi pintu gereja terbuka. Kami semua menoleh. Ciel muncul diambang pintu dengan membawa bunga mawar merah dan…sebuah gaun merah. Ia berjalan melewati lorong kerumunan para orang yang melayat. Elizabeth dan aku memandangnya aneh.
Para pelayat mulai berbisik-bisik
“Upacara pemakaman membawa mawar merah? Lancang sekali..!”
“Tapi, Madam itu sangat menyukai warna merah.”
Ciel terus berjalan sampai pada peti mati disamping kami. Ia membungkuk dan memberikan mawar merah dan menutup gaun putih yang dipakai Madam Red dengan gaun merah yang dibawanya sebagai penghormatan terakhir.
“Ternyata warna merah adalah warna yang paling cocok untukmu…” kata ciel sambil tersenyum pahit.
Aku menyaksikan pemandangan itu. Ciel sangat mirip dengan Ayah…Aku tak bisa merasakan bagaimana perasaan Madam Red ketika melihat Ciel…
Lalu aku menutup mata. Terbayang saat-saat kecil kami dengan Aunt Angelina disamping kami. Menjaga kami, dan mengajak kami bermain. Aunt Angelina juga senang bernyanyi untuk kami. Lagu itulah yang selalu mengingatkan kami padanya…
“London Bridge is falling down, falling down, falling down. Londong Bridge is falling down, my fair lady.”
Dan lagu itu pula yang mengakhiri kenangan manis diantara kami.
Selamat jalan, Aunt…Tidak..Madam Red, bisikku hampa.
Selesai
wat do ya think?
sudah saya update terakhirnya jadi agak detil *iyo po?*
huaaaaaaa!
gak bisa tahan!!! akhirnya dengan sukses Ciel membuat saya menangis tersedu2 ketika melihat ciel diambil soulnya sama Sebasxxx..... huwaaaaaaaaaaa CIEl....!!!!!!!!!!!!!!!! Setelah mati2an menhan air mata ini..karena tdak ingin disangka orang gila...akhirnya pecah juga.. huhuuhuhuh
ciel..
ciel...
ciel......
zutto zutto... semuanya...huhuhuh. Why'd ciel must die?? the manga hasnt ended yet!! huwaaaaaaaaaaanggggg~ now my life is over..really over..after code geass, kuroshitsuji and gundam oo, i havent find another anime that as brillant as them... OVER!!! Seriously. they were the best anime i had ever seen before...
Screen shots..
i'd want to kick the angel's butt!
the england..after France's invasion. And puru puru's flame... Gudbye London....
dan WTH is this?? the last YAOI service?? darn..
Ciel! DONT EVER FALL! T______T why'd you still smile in the end??
Ciel....Now i really cry at this scene *HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA*..his cold face is vanished now...ciel...
the last secs...the despair ciel...
put that hand away sebas! That hand will take ciel's soul!!!
he's like wanna kiss ciel..OMG
isnt this really...really touch your heart? All the memories with them ..ALL OVER>>>
HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! All that i can say is... i am gonna miss ciel...
Last words...
Sayonara Ciel, Good bye phanthomhive...We'll never forget you.. *IAM GONNA CRY SOON!* same as Code GEass, i cant stand if someone i really like dies...
Sayonara...Ciel...and Good Night...
Another Pics...
Titled: "Rest In Peace, Lelouch, Your Requiem is succeed.." --C.C. NewType Scan, Special Zero Requiem.
T_____T, comment me if you take it...
Na na na na na na na~ itsuka...Mata Ao~?
(Nananananana~ lets meet again someday)
Huaaa~! Tiba tiba aku teringat Lelouch...DX...dan teringat lagu Continued Story...T____T dan otomatis judul blog ini langsung berubah...
jadi pengen nangis lagi.. huhuhuhu endingnya sungguh sungguh mengahukan..*bercucuran air mata* kali ini saya tidak akan mengatakan bahwa saya lebay, tapi....sungguh deh...mengharukan...! I CANT STAND IT...!! huaaaa pengen nangis, malah BGM komputer ini Continued Story lagi...T___T
Kali ini saya akan menampilkan Lyric Lagu Continued Story *yang sungguh2 mengahrukan artinya..seperti menandakan hubungan C.C. dan Lelouch...T___T, lelouch..come baccck>>>!"
note: lirik lagu asli dibawahnya terjemahan inggris
credits to animelyrics.com
all thanks to the brilliant voice, arrangement from: Kuroishi hitomi, your voice really touch my heart..!
Sono hitotsubu no shizuku de sae mo
Hana wo mamoru ka mo shirenai
Sono waraigao tada sore dake de
Sashinoberu te ni mo nareru
Sono furueteru koe atsumereba
Kaze wo okosu ka mo shirenai
Sono inochi to iu hakanaki akari
Tomoshite ashi wo susumeyou
With even a single drop of your water
I might be able to protect the flowers
Simply by showing me your smile, just with that
I'll even come to be able to offer my hand
If I gather up your trembling voices
I might cause the wind to blow
Turn on the ephemeral light that is
Your life, and let's move along our way
* Rararararararararan
Itsuka mata aou
Rararararararararan
Ikiteru kagiri
* Lala lala lalalala la
Let us meet again someday
Lala lala lalalala la
As long as we're alive
Toki wo koe toraerareteru
Afureru kono omoi ha nani?
Yasashisa ga mejiri ni niau
Ano hito-tachi ha ima doko ni iru no?
What is this overflowing emotion
That can cross over time and capture me?
Where now are those people to whom
Gentleness suits the corners of their eyes?
Tonari ni ha atarashii seki
Mirai no tame ni mata deau
There is a new seat next to me
We will meet again for the sake of the future
Kazaranai mama dekiru dake
Ikite miyou kyou to iu hi
Kanashikute hito ha setsunai
Soredemo dokomademo michi ha tsudzuku
I can just do it while unadorned
Let's try to live through this day
When they're sad, people are in pain
But even so, the path will go on forever
* Repeat * Repeat
** Rararararararararan
Kaze ga hakobu mono
Rararararararararan
Asu wo hiraku merodi
** Lala lala lalalala la
The wind will carry along
Lala lala lalalala la
A melody that opens up tomorrow
* Repeat
** Repeat * Repeat
** Repeat
nggak mood nulis nih
yang pasti sedang ingin nangis lagi
nonton CG lagi ahh~
lagi pula ending Cg yang sungguh mengharukan itu punya makna tersendiri, yaitu..Pengorbanan...dari Lelouch untuk Dunia..
ALL HAIL LELOUCH, THE ONE AND ONLY GREATEST EMPEROR AROUND THE WORLD


















